Bung Opik "PPKM Oh PPKM"

Header Menu

Bung Opik "PPKM Oh PPKM"

Minggu, 05 September 2021

  


Warta-palapa.com, Bandarlampung

Masa Pandemi Corona yang belum berakhir samapai saat ini, membuat tokoh pemuda Kota Bandarlampung, Bung Opik sangat prihatin terhadap masyarakat dengan diberlakukan nya PPKM yang panjang sekali. 


Bung Opik mengatakan "kasihan saya sama para pengusaha, buruh lepas dan sektor-sektor lainnya, apalagi seputar jalan Raden Intan seperti mati suri. Menurut saya PPKM ini akal-akalan yang tidak masuk akal. Kita mendengar dimedia, bahwa kepala daerah dapat insentif 70 jutaan dalam penanganan covid atau 100 Ribu setiap ada yang meninggal, kalau alasan PPKM karena keselamatan warga, itu akal-akalan biar insentif jalan terus." Di kediamannya, Minggu (06/09/2021). 


"Yang lebih lucunya lagi kota Bandarlampung insentif nakes belum turun juga, alasan Pemkot dana masih tersimpan baik, baik dari mana kalo nakes berjuang mati-matian melawan covid-19 dan berhadapan langsung tapi anggarannya gak segera diberikan, karena itu adalah hak dan wajib segera diturunkan.Toh anggaran itu sudah diberikan pemerintah pusat ke daerah."


Lebih lanjut, Bung Opik menuturkan "Kemudian para pegawai negeri gaji ke 13 lambat tidak diturunkan dan semua urusan keuangan amburadul, dimana hati pemimpin kota ini. Saya prihatin, Walikota sibuk urus covid, sementara rakyat kelaparan dia sibuk imbauan disetiap lampu merah, orang dilarang berkumpul tapi satgas setiap hari berkumpul menciptakan claster satgas (bang Opik sambil tersenyum)."

 


Sambil ngobrol santai dengan ditemani kopi dan makanan ringan, Bung Opik yang juga mantan Caleg Provinsi ini dengan renyahnya mengatakan "emang payah kalo kita punya Walikota mantan ibu rumah tangga, tidak berani, terkesan mandek kebijakan. Kapan ditegur Mendagri pasang wakilnya. Jadi pemimpin itu mesti berani mengambil sikap untuk rakyat. Karena pemimpin itu dipilih oleh rakyat. Jadi wajib hukumnya memperjuangkan hak rakyat. Bukan sibuk urusin proyek akal-akalan tapi hak rakyat tidak tercukupi."


Saya hanya menyampaikan apa yang menjadi keluhan rakyat, jalan ditutup itu tidak efektif apalagi ada jalan alternatif, contoh seperti penyekatan di Plaza pos arah Ramayana, lucunya lagi pengendara lewat Stasiun bayar parkiran 3000 bisa lewat jalan Raden intan, jadi seolah olah penyekatan cuma formalitas agar tidak ditegur pemerintah pusat, dan Pemkot dapat apresiasi dan tentunya insentif besar menunggu. Sambil tertawa bang Opik bilang lucu ya negeri kita ini, kalo pemimpinnya Gak punya rasional dan logika hanya siap diperintah. (Marli)