Warta-palapa.com, Bandarlampung
"Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda.” Kutipan ini sering diasosiasikan dengan Tan Malaka, walaupun sumber realnya masih diperdebatkan.
Saya menulis ini bukan dari posisi yang paling benar, juga bukan dari sudut pandang seseorang yang sudah sangat paham persoalan dunia. Saya hanyalah seorang Mahasiswa Unila yang cukup sering menggunakan dan mendengar kata Idealisme, tepi akhir-akhir ini merasa bahwa kata itu nadinya semakin melemah, dan sulit dijalankan. Sebagai contoh, di kampus idealisme sering terdengar lantang di berbagai forum dan diskusi, keluar lugas dari mulut para Intelektual. Namun dalam praktiknya, ia sering kalah oleh pertimbangan yang lebih aman dan praktis, ujar Firzah mahasiswa unila, Selasa (27/01/2026)
Sebagai Mahasiswa Unila, saya tumbuh dengan anggapan bahwa idealisme adalah soal keberanian untuk memegang nilai. Setidaknya itu yang saya pahami dan sering diajarkan. namun seiring waktu, saat saya semakin lama menjadi mahasiswa, semakin larut berkecimpung di lingkungan organisasi kampus dan mulai mencicipi dunia profesional, saya mulai sadar bahwa mempertahankan idealisme tidak selalu mudah. Ada banyak keadaan yang menjadi tantangan, membuat kita ragu untuk bersikap. Terkadang bukan karena tidak tahu mana yang benar, tapi karena takut menanggung dampak dan konsekuensinya.
Saat ini, kita semua hidup di tengah zaman yang sangat pragmatis. Ada banyak urusan yang diukur dari hasil instant dan manfaat langsung. Dalam kondisi seperti ini, bersikap idealis sering dianggap tidak realistis. Kalimat seperti “jangan terlalu idealis” dan "hidup harus realistis" sudah marak terdengar. Bahkan sering dianggap sebagai nasihat. Tetapi jika sering diterima tanpa dipikirkan lebih mendalam, pola pikir seperti ini pelan-pelan membuat kita terbiasa mengalah pada keadaan.
Di lingkungan kampus, saya melihat hal ini cukup sering terjadi. Organisasi-organisasi kemahasiswaan yang seharusnya menjadi ruang belajar nilai dan keberpihakan, terkadang lebih sibuk dengan urusan posisi dan stratak. Diskusi pun masih rutin berjalan, tetapi tidak selalu jujur. Sikap kritis masih ada, tapi sering disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Disclaimer, saya tidak menulis ini untuk menyalahkan siapa pun, bisa jadi penilaian saya yang keliru, dan bisa juga saya sendiri pernah menjadi bagian dari kondisi itu, dan jujur yang paling terasa berat adalah ketika kita sebenarnya sadar ada yang tidak beres, tetapi memilih diam. Entah itu karena merasa tidak punya cukup pengaruh, atau karena takut dianggap mengganggu. Diam sering kali menjadi jalan keluar, terasa lebih aman. Namun lama-kelamaan, kebiasaan diam ini membuat kita terbiasa membiarkan hal-hal yang seharusnya dipertanyakan.
Idealisme juga sering dilekatkan pada label “belum dewasa”. Seolah-olah semakin seseorang mengenal dunia, semakin wajar jika ia mentolerir kesalahan dan mengurangi prinsipnya. Saya sendiri belum punya cukup pengalaman untuk menilai dunia secara menyeluruh, tapi saya merasa, jika kedewasaan harus dibayar dengan kehilangan nilai yang dipegang, maka ada sesuatu yang harus kita pikirkan ulang.
Akibat dari semua ini, kita mungkin sedang menuju kondisi di mana banyak orang yang cukup pintar, tetapi ragu untuk bersikap. Banyak yang memahami teori dan pengetahuan, tetapi bingung ketika harus mengambil posisi. Pengetahuan terus bertambah, tetapi keberanian justru memudar. Saya tidak mengatakan ini berlaku untuk semua orang, tapi kecenderungan ini terasa semakin nyata. Meski begitu, saya tidak ingin mengatakan bahwa idealisme benar-benar hilang. Mungkin ia hanya tersisihkan perlahan. Ia masih ada, meski sering muncul dalam bentuk yang sederhana dan tidak selalu terlihat. Contohnya dalam keputusan-keputusan kecil, dalam sikap jujur, atau dalam keberanian untuk tidak ikut-ikutan membenarkan sesuatu yang kita tahu salah. Memang ini tidak mudah, dan tidak semua orang sanggup melakukannya.
Tulisan ini jelas memiliki banyak keterbatasan. Saya menulisnya sebagai mahasiswa yang masih belajar memahami keadaan. Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengajak bertanya, terutama pada diri sendiri. Di tengah tuntutan untuk selalu pragmatis, barangkali pertanyaan pentingnya bukan apakah idealisme masih relevan, tetapi apakah kita masih mau menjaganya. Jika hari ini idealisme terasa memudar, mungkin hal itu karena kita terlalu sering cari aman, dan dari situlah semuanya dimulai. (Ratih)

