Warta-palapa.com, Jakarta
Menjelang realisasi proyek hilirisasi yang direncanakan mulai Januari 2026, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menyatakan masih menunggu arahan lebih lanjut dari Danantara serta PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID) selaku induk holding pertambangan.
PTBA, emiten batubara anggota holding MIND ID, terus melakukan koordinasi intensif terkait rencana proyek hilirisasi batubara, termasuk gasifikasi batubara menjadi dimetil eter (DME) sebagai substitusi LPG. Proyek DME tersebut masuk dalam lima hingga enam proyek yang direncanakan melakukan groundbreaking tahap pertama.
P.H. Corporate Secretary Division Head PTBA, Eko Prayitno, mengatakan perseroan mengikuti seluruh kebijakan dan arahan pemerintah dalam pelaksanaan proyek hilirisasi batubara.
“Hingga saat ini, kami terus melakukan koordinasi intensif dan menunggu arahan lebih lanjut dari Danantara serta MIND ID selaku induk holding industri pertambangan,” ujar Eko, Rabu (07/01/2026).
Terkait mitra kerja sama, Eko menyebut belum ada kepastian mengenai negara asal investor yang akan terlibat. Penentuan mitra masih dalam tahap kajian dan evaluasi teknis bersama pemegang saham serta kementerian terkait.
“Segala keputusan final mengenai mitra kerja sama akan diputuskan melalui koordinasi dengan pemegang saham dan kementerian terkait,” jelasnya.
Sebelumnya, Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, mengungkapkan calon mitra potensial proyek DME berasal dari China. Dari sisi pasokan, PTBA telah menyiapkan cadangan batubara sekitar 800 juta ton guna mendukung proyek hilirisasi, termasuk DME.
Turino menjelaskan, proyek DME membutuhkan sekitar 5–6 juta ton batubara per tahun atau sekitar 100–120 juta ton untuk kebutuhan selama 20 tahun operasional.
Eko menambahkan, alokasi cadangan batubara untuk tahap awal proyek masih akan disesuaikan dengan hasil studi kelayakan terbaru.
“Terkait alokasi spesifik tahap pertama proyek DME, jumlahnya masih dalam proses sinkronisasi dengan feasibility study terbaru,” ujarnya.
Sementara itu, keterlibatan Danantara dalam proyek hilirisasi batubara tersebut disebut belum memasuki tahap final. PTBA masih menunggu kepastian skema investasi dan tata kelola yang akan ditetapkan.
“Kami menunggu skema final dan tata kelola investasi agar implementasi proyek ini dapat memberikan nilai tambah optimal bagi negara dan seluruh pemangku kepentingan,” pungkas Eko.
(R01-R12-Red-BFN)

