Warta-palapa.com, Bandarlampung
Dunia sedang sibuk. Di layar-layar gawai kita, bursa saham yang memerah menjadi horor bagi para investor. Di panggung politik, para elite sibuk berbalas pantun soal janji kesejahteraan dan retorika "peras darah" demi rakyat. Namun, di balik riuhnya perdebatan angka pertumbuhan ekonomi dan polemik ijazah yang tak kunjung usai, sebuah berita pilu menyelinap, seorang anak sekolah dasar diduga mengakhiri hidupnya hanya karena tak mampu membeli alat tulis.
Tragedi ini bukan sekadar berita duka kriminal biasa. Ini adalah sebuah anomali yang menggugat definisi "merdeka" yang kita agungkan setiap tahunnya.
Kontras yang Menyakitkan
Kita hidup dalam sebuah paradoks. Di satu sisi, para penguasa berpidato lantang tentang visi Indonesia Emas 2045. Di sisi lain, ada anak bangsa yang emasnya redup sebelum sempat bersinar hanya karena sepotong pensil dan buku tulis. Saat para pakar sibuk berdebat soal angka pertumbuhan 6 persen, kita justru gagal memberikan jaminan dasar paling elementer bagi seorang anak untuk sekadar belajar.
Ketimpangan ini menunjukkan bahwa ada jarak yang sangat lebar antara statistik kemajuan dengan kenyataan di lapangan. Ketika kebijakan hanya dipandang sebagai deretan angka di atas kertas, kita sering lupa bahwa di bawah angka-angka itu ada nyawa, ada harapan, dan ada keputusasaan yang nyata.
Gugatan Terhadap Nurani Publik
Pertanyaan "Apa benar kita sudah merdeka?" yang muncul dalam refleksi ini bukanlah pertanyaan retoris belaka. Merdeka bukan hanya soal kedaulatan wilayah atau kebebasan berpendapat. Merdeka yang hakiki adalah ketika tidak ada lagi anak yang merasa masa depannya tertutup rapat hanya karena kemiskinan struktural.
Ketika seorang anak merasa beban hidupnya lebih berat daripada tas sekolahnya, di situlah kita sebagai bangsa harus berhenti sejenak dan bercermin. Apakah sistem pendidikan kita, skema bantuan sosial kita, dan kepekaan tetangga kiri-kanan kita sudah benar-benar berfungsi? Ataukah kita terlalu sibuk memandang ke atas, ke bursa saham dan panggung politik, sehingga abai pada mereka yang tersungkur di bawah kaki kita?
Menjahit Kembali Makna Merdeka
Tragedi ini harus menjadi alarm keras. Kedaulatan sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa keras pidato penguasanya, melainkan dari seberapa aman anak-anak paling miskin di pelosok negeri bisa bermimpi tanpa takut terganjal biaya alat tulis.
Sudah saatnya kebijakan publik kembali ke "khittah"-nya, memanusiakan manusia. Kita tidak butuh lebih banyak janji politis yang mengawang. Yang kita butuhkan adalah kehadiran negara dalam bentuk yang paling konkret, memastikan tidak ada lagi pensil yang patah karena keputusasaan.
Jika kita masih membiarkan kemiskinan merenggut nyawa anak-anak kita, maka kemerdekaan yang kita rayakan mungkin baru sebatas seremoni, belum menjadi substansi. Mari kita pastikan bahwa di masa depan, tidak ada lagi anak yang harus "berhenti" mengakhiri hidupnya di dunia sebelum mereka benar-benar mulai melangkah menggapai hak-nya di bumi nusantara. (***)
Oleh: Dr. Susanto
(Dosen Universitas Bandar Lampung)

