Warta-palapa.com, Bandar Lampung
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung melaporkan bahwa neraca perdagangan luar negeri Provinsi Lampung pada Februari 2026 kembali mencatatkan kinerja positif dengan surplus sebesar US$389,33 juta.
Nilai ekspor Provinsi Lampung pada Februari 2026 tercatat mencapai US$492,31 juta. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 4,95 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y) dibandingkan dengan Februari 2025 yang bernilai US$517,93 juta. Secara kumulatif, ekspor Provinsi Lampung selama Januari-Februari 2026 telah mencapai US$992,45 juta, atau turun sedikit 0,30 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai US$995,48 juta.
Dari sisi distribusi pelabuhan, sebanyak 83,64 persen atau senilai US$830,12 juta dari total ekspor kumulatif Januari-Februari 2026 dilakukan melalui pelabuhan yang berada di Provinsi Lampung, sementara sisanya senilai US$162,33 juta (16,36 persen) dikirim melalui pelabuhan di luar provinsi.
Tiga negara tujuan utama ekspor Lampung pada periode Januari-Februari 2026 adalah Tiongkok dengan nilai ekspor US$162,64 juta (16,39 persen dari total ekspor), diikuti oleh Amerika Serikat sebesar US$126,01 juta (12,70 persen), dan Pakistan sebesar US$114,98 juta (11,58 persen). Komoditas utama yang diekspor ke ketiga negara tersebut didominasi oleh golongan Lemak dan Minyak Hewan/Nabati.
Secara keseluruhan, tiga komoditas dengan pangsa ekspor terbesar pada periode Januari-Februari 2026 adalah Lemak dan Minyak Hewan/Nabati senilai US$482,76 juta (48,64 persen), Kopi, Teh, dan Rempah-Rempah senilai US$141,57 juta (14,27 persen), serta Bahan Bakar Mineral senilai US$103,97 juta (10,48 persen).
Dari sisi impor, nilai impor Provinsi Lampung pada Februari 2026 tercatat sebesar US$102,98 juta. Nilai ini mengalami penurunan signifikan sebesar 63,69 persen secara y-on-y dibandingkan dengan Februari 2025 yang mencapai US$283,62 juta. Secara kumulatif, nilai impor Januari-Februari 2026 tercatat sebesar US$191,65 juta, atau turun 63,35 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai US$522,88 juta.
Tiga negara asal impor terbesar pada periode Januari Februari 2026 adalah Tiongkok dengan nilai impor US$28,25 juta (14,74 persen) dengan komoditas utama mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya, diikuti Amerika Serikat sebesar US$22,81 juta (11,90 persen) dengan komoditas utama biji dan buah mengandung minyak, serta Saudi Arabia sebesar US$21,98 juta (11,47 persen) dengan komoditas utama Bahan Bakar Mineral.
Secara keseluruhan, tiga komoditas dengan pangsa impor terbesar pada periode Januari-Februari 2026 adalah Ampas dan Sisa Industri Makanan senilai US$44,60 juta (23,27 persen), Bahan Bakar Mineral senilai US$28,87 juta (15,06 persen), serta Pupuk senilai US$25,50 juta (13,31 persen).
Dengan nilai ekspor sebesar US$492,31 juta dan nilai impor sebesar US$102,98 juta, Provinsi Lampung pada Februari 2026 kembali mempertahankan tren surplus neraca perdagangan luar negerinya. Nilai surplus yang tercatat sebesar US$389,33 juta ini memang lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya (Januari 2026 yang mencapai US$411,47 juta), namun capaian Februari 2026 tersebut masih lebih tinggi dibandingkan realisasi surplus pada bulan yang sama di tahun 2025, mencerminkan ketahanan kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Lampung di awal tahun 2026.
Inflasi Provinsi Lampung Maret 2026 Terjaga di Level 0,19
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung melaporkan perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada periode Maret 2026. Bertepatan dengan masa bulan Ramadan, Provinsi Lampung tercatat mengalami inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,19 persen. Capaian ini jauh lebih rendah dibandingkan Maret tahun sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 1,96 persen.
Bila dirinci menurut kelompok pengeluaran, inflasi tertinggi secara bulanan terjadi pada kelompok Rekreasi, Olahraga, dan Budaya sebesar 1,11 persen, meskipun kontribusinya terhadap inflasi umum relatif kecil. Sementara itu, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan inflasi sebesar 0,31 persen justru memberikan andil terbesar terhadap inflasi umum, yaitu sebesar 0,10 persen. Adapun deflasi terbesar dialami oleh kelompok Pakaian dan Alas Kaki sebesar 0,49 persen, dengan andil deflasi sebesar 0,03 persen yang turut menahan laju inflasi secara keseluruhan.
Lima komoditas utama pemicu andil inflasi secara bulanan pada Maret 2026 adalah daging ayam ras dengan andil 0,05 persen, diikuti oleh bensin, telur ayam ras, beras, dan vitamin. Sebaliknya, lima komoditas yang berperan sebagai penetralisir inflasi adalah cabai merah dengan andil deflasi hingga -0,09 persen, disusul celana panjang jeans pria, tomat, obat gosok, dan emas perhiasan.
Selanjutnya, jika dilihat secara tahunan (year-on-year/y-on-y), Provinsi Lampung mencatatkan inflasi sebesar 1,16 persen pada Maret 2026. Capaian ini lebih rendah dibandingkan kondisi Maret 2025 yang tercatat inflasi sebesar 1,58 persen.
Jika dirinci berdasarkan kelompok pengeluaran, kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mengalami inflasi tahunan tertinggi sebesar 9,55 persen dengan andil 0,60 persen. Namun demikian, kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan adalah kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga, yang mencatatkan inflasi sebesar 8,78 persen dengan andil sebesar 1,03 persen. Di sisi lain, kelompok Pendidikan menjadi kelompok dengan deflasi terdalam secara tahunan, yaitu sebesar 17,97 persen dengan andil deflasi mencapai 1,19 persen.
Secara komoditas, lima penyumbang andil inflasi tahunan terbesar pada Maret 2026 adalah tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, beras, dan Sigaret Kretek Mesin (SKM). Adapun lima komoditas yang menahan laju inflasi tahunan adalah tarif Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Pertama (SMP), bawang putih, cabai merah, dan bawang merah.
BPS Provinsi Lampung juga memantau perkembangan inflasi di empat kabupaten/kota cakupan IHK. Pada Maret 2026, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kota Metro sebesar 1,62 persen, sedangkan inflasi tahunan terendah tercatat di Kabupaten Lampung Timur sebesar 1,05 persen. Sementara itu, jika dilihat secara bulanan, inflasi tertinggi dialami oleh Kabupaten Mesuji sebesar 0,80 persen, sedangkan inflasi bulanan terendah terjadi di Kabupaten Lampung Timur sebesar 0,04 persen.
Secara ringkas, perkembangan harga konsumen di Provinsi Lampung pada Maret 2026 menunjukkan tekanan inflasi yang terkendali, baik secara bulanan maupun tahunan. Inflasi bulanan tercatat sebesar 0,19 persen dengan kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau sebagai penyumbang utama, di mana komoditas daging ayam ras menjadi penyumbang utamanya. Dari sisi tahunan, inflasi sebesar 1,16 persen didorong terutama oleh kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga, dengan tarif listrik sebagai komoditas penyumbang terbesar.
Nilai Tukar Petani Lampung Maret 2026 Turun 124,92, Persen
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung melaporkan perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Lampung pada periode Maret 2026. Sebagai pengingat, NTP merupakan indikator yang membandingkan antara indeks harga yang diterima petani atas hasil produksinya dengan indeks harga yang dibayar petani dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Pada Maret 2026, NTP Provinsi Lampung tercatat sebesar 124,92, atau mengalami penurunan sebesar 1,49 persen dibandingkan bulan sebelumnya (Februari 2026). Penurunan ini didorong oleh melemahnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 1,08 persen menjadi 159,26, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru naik sebesar 0,41 persen menjadi 127,49. Komoditas yang turut menekan Indeks Harga Terima Petani antara lain kakao, cabai merah, dan kopi, sedangkan kenaikan pada Indeks Harga Bayar Petani didorong oleh beras, jeruk, telur ayam ras, tarif angkutan luar kota, baju muslimah, dan bensin.
Jika dirinci menurut subsektor, penurunan NTP secara bulanan terutama bersumber dari subsektor Hortikultura yang turun sebesar 4,16 persen, dan subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat yang turun sebesar 3,28 persen. Sementara itu, empat subsektor pertanian lainnya masih mencatatkan perkembangan yang positif, yakni subsektor Tanaman Pangan yang naik 0,31 persen, Peternakan naik 1,97 persen, Perikanan Tangkap naik 1,58 persen, serta Perikanan Budidaya yang mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 3,75 persen.
Meskipun NTP bulan Maret 2026 mengalami tekanan dari sisi harga komoditas perkebunan dan hortikultura, sebagian besar subsektor pertanian Provinsi Lampung masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif, mencerminkan daya tahan petani di sektor pangan, peternakan, dan perikanan dalam menghadapi dinamika harga di awal kuartal kedua tahun 2026.
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Berbintang dan Nonbintang Alami Penurunan
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung merilis data perkembangan pariwisata untuk periode Februari 2026. Indikator utama yang dilaporkan adalah Tingkat Penghunian Kamar (TPK), yang merupakan perbandingan antara jumlah malam kamar yang terjual terhadap jumlah malam kamar akomodasi yang tersedia.
TPK hotel berbintang di Provinsi Lampung pada Februari 2026 tercatat sebesar 35,89 persen. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 6,34 persen poin dibandingkan bulan sebelumnya (Januari 2026 yang tercatat 42,23 persen). Sementara itu, jika dibandingkan secara tahunan (year-on-yearly-on-y) dengan Februari 2025, TPK hotel berbintang juga mengalami penurunan sebesar 1,81 persen poin.
Untuk akomodasi hotel nonbintang di Provinsi Lampung pada Februari 2026, TPK tercatat sebesar 20,88 persen. Angka ini mengalami penurunan sebesar 3,56 persen poin dibandingkan dengan Januari 2026. Demikian pula jika dibandingkan secara tahunan, TPK hotel nonbintang turut mengalami penurunan sebesar 1,96 persen poin dibandingkan dengan Februari 2025.
Secara umum, sektor pariwisata Lampung pada Februari 2026 menunjukkan tren penurunan aktivitas hunian kamar hotel, baik pada klasifikasi berbintang maupun nonbintang, baik secara bulanan maupun tahunan. Penurunan ini sejalan dengan pola yang lazim terjadi pada awal tahun, di mana tingkat kunjungan wisatawan cenderung lebih rendah dibandingkan periode akhir tahun maupun musim liburan.
Perkembangan Transportasi Lampung Februari 2026: Penumpang Udara dan Laut Turun, Kereta Api Tumbuh Positif Secara Tahunan
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung merilis data perkembangan transportasi untuk periode Februari 2026. Secara umum, jumlah keberangkatan penumpang pada moda angkutan udara dan laut mencatatkan penurunan baik secara bulanan maupun tahunan, sementara angkutan kereta api masih mampu membukukan pertumbuhan positif secara tahunan.
Jumlah keberangkatan penumpang angkutan udara melalui Bandara Raden Inten II pada Februari 2026 tercatat sebanyak 44.144 orang. Bila dilihat secara bulanan (month-to-month/m-to-m), angka ini menunjukkan penurunan sebesar 20,02 persen dibandingkan dengan Januari 2026. Penurunan juga terpantau secara tahunan (year-on-year/y-on-y), di mana jumlah penumpang angkutan udara turun sebesar 1,39 persen dibandingkan dengan Februari 2025.
Selanjutnya, aktivitas keberangkatan penumpang melalui Pelabuhan Bakauheni pada Februari 2026 mencapai 33.224 penumpang. Angka ini mengalami penurunan yang cukup dalam sebesar 32,59 persen secara bulanan dibandingkan Januari 2026. Sejalan dengan itu, jika dibandingkan secara tahunan dengan Februari 2025, jumlah penumpang angkutan laut juga mencatatkan penurunan sebesar 35,30 persen.
Berbeda dengan moda transportasi lainnya, angkutan kereta api menunjukkan kinerja yang lebih positif dari sisi tahunan. Jumlah penumpang kereta api melalui Stasiun Tanjung Karang pada Februari 2026 tercatat sebanyak 74.979 penumpang, atau turun 15,43 persen secara bulanan dibandingkan Januari 2026. Namun demikian, secara tahunan jumlah penumpang kereta api justru mencatatkan pertumbuhan sebesar 12,49 persen dibandingkan dengan Februari 2025, menjadikannya satu-satunya moda transportasi yang masih tumbuh positif secara y-on-y pada periode ini.
Secara keseluruhan, penurunan jumlah penumpang pada seluruh moda transportasi secara bulanan di Februari 2026 mencerminkan berakhirnya masa puncak perjalanan pasca libur akhir tahun dan Tahun Baru. Meskipun demikian, pertumbuhan positif pada angkutan kereta api secara tahunan mengindikasikan bahwa minat masyarakat terhadap moda transportasi tersebut terus mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. (Marli/Rls)

