Warta-palapa.com, Tanggamus
Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai pelaksanaan Pangan Balak dalam rangkaian Tanggamus Expo 2026, di Lapangan Tangsi, Kecamatan Talang Padang, Jumat, 10 April 2026. Tradisi adat yang sarat makna ini kembali menjadi magnet utama perayaan Hari Ulang Tahun ke-29 Kabupaten Tanggamus.
Dalam sambutannya, Bupati Tanggamus, Moh. Saleh Asnawi, menegaskan bahwa Pangan Balak bukan sekadar seremoni budaya, tetapi simbol kuat persatuan masyarakat Sai Bumi Begawi Jejama.
“Saya merasa bangga dan bahagia berada di tengah-tengah masyarakat dalam melestarikan tradisi Pangan Balak atau Pangan Agung ini. Ini bukan hanya budaya, tapi juga wujud kebersamaan kita,” ujarnya.
Kegiatan ini diikuti seluruh elemen masyarakat dari 20 kecamatan, menjadi bukti bahwa semangat gotong royong masih hidup dan terjaga di tengah masyarakat Tanggamus. Antusiasme warga pun terlihat sejak awal rangkaian Tanggamus Expo, mulai dari pembukaan, lomba-lomba, pameran pembangunan dan UMKM, hingga Grand Final Muli Mekhanai.
Bupati juga mengajak masyarakat untuk turut memeriahkan penutupan expo yang akan digelar pada malam hari.
“Pangan Balak ini sangat unik karena menekankan arti kebersamaan, selaras dengan motto kita ‘Begawi Jejama’, bekerja bersama-sama membangun daerah,” katanya.
Tak hanya itu, ia mengungkapkan kebanggaannya karena Pangan Balak telah resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan pada 15 Desember 2025.
“Ini adalah kebanggaan kita bersama. Tugas kita sekarang adalah menjaga dan melestarikannya agar tetap dikenal oleh generasi mendatang,” tegasnya.
Bupati juga mengingatkan pentingnya menjaga identitas daerah, termasuk penggunaan logo resmi Kabupaten Tanggamus sebagai simbol kecintaan terhadap daerah.
Di akhir sambutannya, dengan penuh khidmat, Bupati secara resmi membuka kegiatan tersebut.
“Dengan mengucap Bismillahirrohmanirrohim, kegiatan Pangan Balak Kabupaten Tanggamus Tahun 2026 secara resmi saya nyatakan dimulai,” ucapnya.
Perhelatan Pangan Balak tahun ini tak hanya menjadi ajang budaya, tetapi juga ruang edukasi dan promosi kekayaan adat Tanggamus kepada masyarakat luas. Tradisi leluhur pun kembali ditegaskan bahwa jika bukan sekarang, kapan lagi. Jika bukan kita, siapa lagi. (Sapriadi)


