Warta-palapa.com, Bandar Lampung
Anggota DPRD Kota Bandar Lampung Fraksi PDI Perjuangan, Sri Ningsih, menggelar kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Kecamatan Sukarame, Kota Bandar Lampung, Senin (19/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai Pancasila, menjaga persatuan, serta membangun keteladanan mulai dari lingkungan keluarga.
Kegiatan tersebut dimoderatori Anwar, SE, mantan Lurah Sukarame, dengan menghadirkan dua narasumber, yakni Palgunadi, STP., Sekretaris DPD I PDI Perjuangan Provinsi Lampung sekaligus mantan anggota DPRD Provinsi Lampung, serta H. Hambali, mantan anggota DPRD Kota Bandar Lampung periode 2014–2019.
Dalam sambutannya, Sri Ningsih yang juga menjabat Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Bandar Lampung mengawali kegiatan dengan salam Pancasila, dilanjutkan pembacaan Pancasila yang diikuti seluruh warga yang hadir.
Sri Ningsih menegaskan, kegiatan pembinaan ideologi Pancasila tidak hanya menjadi sarana memperkuat pemahaman kebangsaan, tetapi juga membuka ruang komunikasi antara masyarakat dan wakil rakyat.
“Jika ada keluhan masyarakat mengenai pelayanan publik, silakan menghubungi kami selaku perwakilan masyarakat di DPRD Kota Bandar Lampung. Tetap selalu kompak dan berkoordinasi, bersatu, jangan sampai terpecah belah,” ujar Sri Ningsih, yang menutup sambutannya dengan seruan, “Merdeka, merdeka, merdeka!”
Hambali: Pancasila Harus Diterapkan dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam pemaparannya, H. Hambali menyampaikan bahwa nilai-nilai Pancasila sesungguhnya telah diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari hubungan bertetangga, bermusyawarah hingga bergotong royong.
Menurutnya, pengamalan Pancasila juga tercermin dalam sikap menghormati simbol negara. Saat menyanyikan lagu Indonesia Raya, masyarakat harus berdiri dengan sikap sempurna dan penuh khidmat sebagai bentuk penghormatan terhadap bangsa dan negara.
Hambali juga menekankan pentingnya menanamkan kecintaan terhadap Pancasila dan lagu-lagu kebangsaan kepada generasi muda.
“Tanamkan kepada anak-anak kita agar mencintai Pancasila. Jangan hanya lagu-lagu dangdut saja yang hafal, tetapi lagu-lagu kebangsaan justru tidak hafal,” pesannya.
Selain itu, ia mengingatkan masyarakat agar lebih bijak menggunakan media sosial. Orang tua, katanya, memiliki tanggung jawab untuk mengawasi dan mengingatkan anak-anak agar tidak menggunakan media sosial secara sembarangan karena dapat menimbulkan berbagai dampak negatif.
Hambali juga mengajak warga menjaga kondusivitas lingkungan dan keharmonisan keluarga. Ia menyinggung antrean pembelian bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi belakangan ini serta mengajak masyarakat tetap bersyukur atas ketersediaan energi, sembari melihat kondisi masyarakat di negara-negara yang tengah dilanda konflik.
Ia menegaskan, Pancasila memiliki keunggulan sebagai dasar negara yang mampu mempersatukan bangsa Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau, beragam suku, budaya, dan bahasa.
Palgunadi: Keteladanan Harus Dimulai dari Keluarga
Sementara itu, Palgunadi menyoroti pentingnya memahami kebijakan pembatasan BBM bersubsidi. Menurutnya, subsidi bahan bakar diperuntukkan bagi masyarakat yang berhak, sedangkan sektor industri tidak mendapatkan subsidi yang sama.
Ia menjelaskan, kebijakan subsidi merupakan bagian dari upaya pemerintah mengelola anggaran agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara tepat sasaran.
Dalam kesempatan tersebut, Palgunadi juga menekankan pentingnya pendidikan, kejujuran, dan keteladanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia menilai pendidikan membutuhkan proses, waktu, dan biaya sehingga setiap orang harus menghargai aturan serta prosedur yang berlaku.
Menurut Palgunadi, pengamalan Pancasila tidak cukup hanya melalui hafalan atau seremoni, tetapi harus diwujudkan melalui perilaku sehari-hari, termasuk sikap menghormati lagu kebangsaan dan menjunjung tinggi kejujuran.
“Muara dari semuanya adalah keteladanan. Keluarga harus menjadi tempat pembinaan, pendidikan, dan keteladanan. Semua dimulai dari keluarga. Orang tua harus menjadi teladan bagi keluarganya,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti persoalan krisis keteladanan yang dinilai dapat merusak kepercayaan masyarakat, seperti dugaan korupsi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan praktik suap dalam penanganan perkara hukum.
Palgunadi mengajak masyarakat memulai perubahan dari lingkungan terdekat dengan membiasakan perilaku baik di dalam keluarga.
“Kalau kita ingin keluarga baik, lakukanlah yang baik di keluarga kita,” tegasnya.
Lebih lanjut, Palgunadi menyampaikan bahwa komunikasi merupakan kunci penting bagi seorang pemimpin dalam membangun hubungan dengan masyarakat. Pemimpin harus hadir di tengah warga, mendengarkan keluhan, membuka ruang dialog, serta mampu memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia menjelaskan pentingnya komunikasi melalui pendekatan sederhana yang menekankan tiga hal, yakni hadir di tengah masyarakat, berbicara atau menyampaikan aspirasi kepada pemerintah, serta memberikan solusi dan pelayanan kepada warga.
Perkuat Persatuan dan Pengamalan Pancasila
Melalui kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga persatuan, mengamalkan nilai-nilai Pancasila, menggunakan media sosial secara bijak, serta membangun keteladanan dalam keluarga dan lingkungan sosial.
Kegiatan ini juga menjadi ruang dialog antara warga dan wakil rakyat untuk memperkuat komunikasi serta mendorong penyelesaian persoalan masyarakat melalui jalur yang tepat.
Dengan pengamalan Pancasila yang dimulai dari keluarga dan kehidupan sehari-hari, semangat persatuan dan gotong royong diharapkan terus terjaga demi terciptanya lingkungan masyarakat yang aman, harmonis, dan kondusif. (Marli)



