Warta-palapa.com, Pematang Pasir
Oleh: Sandi FW
Bangsa ini kembali berbicara tentang semangat pemuda. Panggung didirikan, spanduk dibentangkan, upacara dilaksanakan, pidato dibacakan, dan foto-foto peringatan memenuhi media sosial. Semua terlihat gagah, nasionalis, dan penuh semangat.
Namun, setelah panggung dibongkar dan mikrofon dimatikan, pertanyaan yang lebih penting justru tertinggal: apa yang benar-benar berubah dalam kehidupan pemuda setelah peringatan itu selesai?
Apakah kesempatan kerja semakin terbuka? Apakah anak muda semakin mudah mengembangkan usaha? Apakah pendidikan semakin terhubung dengan kebutuhan dunia kerja? Apakah pemuda dari keluarga sederhana memiliki kesempatan yang adil untuk maju? Dan apakah mereka benar-benar dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang menentukan masa depannya?
Atau jangan-jangan, kita terlalu sibuk merayakan keberanian pemuda tahun 1928, tetapi kurang serius membangun keberanian, kemandirian, dan daya saing pemuda tahun 2026?
Inilah pertanyaan yang harus dijawab melalui Celoteh Sandi FW: Sumpah Pemuda atau Sampah Pemuda?
Istilah ini bukan untuk merendahkan generasi muda. Ini adalah tamparan reflektif bagi perilaku yang menyia-nyiakan potensi, sekaligus kritik keras terhadap sistem yang membiarkan potensi pemuda tidak berkembang.
Sebab, yang patut kita khawatirkan bukanlah pemuda yang berani bersuara. Yang patut kita khawatirkan adalah ketika suara tidak lagi melahirkan gagasan, gagasan tidak berubah menjadi tindakan, dan peringatan sejarah tidak menghasilkan perbaikan.
1. Kita Mengagungkan Pemuda, tetapi Apakah Kita Memberi Mereka Masa Depan?
Pemuda selalu disebut sebagai harapan bangsa. Kalimat itu terdengar indah, tetapi harapan tanpa kebijakan nyata hanya akan menjadi slogan.
Kita menuntut anak muda mandiri, tetapi kemandirian membutuhkan akses pendidikan, keterampilan, modal, jaringan usaha, dan kesempatan kerja. Kita meminta mereka kreatif, tetapi kreativitas perlu ruang untuk diuji. Kita mendorong mereka berwirausaha, tetapi usaha kecil membutuhkan pendampingan, akses pasar, permodalan yang bertanggung jawab, dan kepastian berusaha.
Di sinilah pertanyaan kritis harus diarahkan kepada seluruh pemangku kepentingan: apakah program kepemudaan selama ini benar-benar menghasilkan kemampuan dan kesempatan, atau sekadar menghasilkan laporan kegiatan, sertifikat, dokumentasi, dan seremoni?
Keberhasilan program pemuda tidak semestinya hanya dihitung dari berapa banyak peserta yang hadir, melainkan dari berapa banyak peserta yang memperoleh keterampilan, pekerjaan, penghasilan, atau usaha yang bertahan.
Jika pelatihan selesai tanpa pendampingan, sertifikat dibagikan tanpa peningkatan kompetensi, dan bantuan diberikan tanpa evaluasi dampak, kita perlu berani mengoreksi pendekatan tersebut.
Jangan sampai anggaran habis, dokumentasi lengkap, tetapi persoalan yang ingin diselesaikan tetap berjalan di tempat.
2. Jangan Hanya Menyalahkan Pemuda, tetapi Jangan Pula Membenarkan Kemalasan
Kritik harus adil. Tidak semua pemuda menganggur karena malas. Ada yang telah mengirim puluhan lamaran kerja, tetapi belum mendapatkan kesempatan. Ada lulusan yang memiliki ijazah, tetapi kesulitan memperoleh pekerjaan sesuai kompetensinya. Ada anak muda yang ingin membuka usaha, tetapi terbentur modal dan pasar.
Namun, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap persoalan di kalangan pemuda sendiri.
Ada yang ingin sukses, tetapi tidak bersedia meningkatkan keterampilan. Ingin memiliki penghasilan besar, tetapi enggan memulai dari pekerjaan kecil. Ingin dihargai, tetapi tidak disiplin. Ingin menjadi pengusaha, tetapi tidak mau belajar menghitung biaya, memahami pelanggan, dan menanggung risiko. Ada pula yang lebih sibuk membangun citra di media sosial daripada membangun kemampuan nyata.
Tentu perilaku itu tidak mewakili seluruh generasi muda. Namun, jika ditemukan, kita harus berani mengkritiknya.
Hak untuk memperoleh kesempatan harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab untuk mempersiapkan diri.
Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Dunia usaha tidak bisa menanggung seluruh persoalan. Sekolah tidak bisa menjamin masa depan tanpa dukungan ekosistem. Dan pemuda sendiri tidak bisa terus menunggu semua keadaan menjadi sempurna sebelum mulai bergerak.
Kita membutuhkan dua hal sekaligus: sistem yang lebih adil dan generasi yang lebih siap.
3. Pemuda Jangan Hanya Menjadi Objek Program dan Pemanis Panggung
Salah satu pertanyaan mendasar adalah: apakah pemuda sungguh-sungguh diberi ruang untuk menentukan arah pembangunan, atau hanya diundang ketika sebuah kegiatan membutuhkan peserta dan suasana yang meriah?
Pemuda seharusnya tidak berhenti sebagai penerima bantuan, peserta seminar, pengisi acara, atau objek kampanye. Mereka harus diberi kesempatan menjadi pencipta solusi, pelaku ekonomi, penggerak lingkungan, inovator, dan mitra kritis dalam pembangunan.
Organisasi kepemudaan juga perlu mengevaluasi dirinya sendiri. Apakah organisasi benar-benar membina anggota, atau hanya aktif ketika ada acara? Apakah kadernya bertambah kompeten, atau hanya bertambah jabatan? Apakah programnya menyelesaikan persoalan masyarakat, atau sebatas menghasilkan dokumentasi?
Jangan alergi terhadap pertanyaan seperti ini. Organisasi yang sehat tidak takut dievaluasi. Pemimpin yang serius membangun generasi tidak takut dikritik.
Jabatan dalam organisasi seharusnya menjadi alat pengabdian, bukan sekadar gelar untuk dibanggakan.
4. Media Sosial: Senjata Kemajuan atau Mesin Pemborosan Potensi?
Generasi muda hari ini memiliki peluang yang tidak dimiliki banyak generasi sebelumnya. Dengan telepon genggam dan koneksi internet, seseorang dapat belajar keterampilan baru, menjual produk, memasarkan jasa, membangun jaringan, bahkan menciptakan lapangan kerja.
Namun, teknologi tidak otomatis melahirkan kemajuan.
Jika waktu lebih banyak habis untuk pertengkaran, penghinaan, penyebaran kabar yang belum terverifikasi, dan perlombaan mencari perhatian, teknologi justru berpotensi menjauhkan pemuda dari tujuan produktifnya.
Kita tidak membutuhkan generasi yang hanya mahir membuat konten tentang kesuksesan. Kita membutuhkan generasi yang mampu menciptakan nilai ekonomi, mengembangkan pengetahuan, dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Ukuran kemajuan digital bukan sekadar jumlah pengikut atau tayangan. Ukurannya juga adalah kemampuan, kepercayaan pelanggan, kualitas karya, pendapatan yang halal, dan dampak positif yang dihasilkan.
Gunakan media sosial untuk membangun reputasi. Gunakan teknologi untuk memperluas pasar. Gunakan ruang digital untuk menyebarkan pengetahuan, bukan memperbesar kebencian.
5. Lalu, Apa Solusinya? Berhenti Berpidato, Mulai Membangun Ekosistem!
Kritik tanpa solusi hanya akan menjadi kebisingan baru. Karena itu, semangat Sumpah Pemuda harus diterjemahkan menjadi agenda kerja yang jelas, terukur, dan dapat dievaluasi.
Pertama, ubah pelatihan menjadi jalan menuju pekerjaan dan usaha.
Setiap program pelatihan harus dimulai dengan pemetaan kebutuhan dunia kerja dan potensi ekonomi daerah. Peserta tidak cukup hanya mendapatkan materi dan sertifikat. Mereka perlu praktik, portofolio, pendampingan, akses magang, pertemuan dengan calon pemberi kerja, atau bantuan menguji kelayakan usaha.
Setelah pelatihan, lakukan pemantauan selama tiga hingga enam bulan. Catat berapa peserta yang bekerja, memperoleh penghasilan, atau menjalankan usaha. Jika hasilnya rendah, perbaiki programnya, bukan sekadar mengulang acara yang sama.
Kedua, bangun gerakan kewirausahaan pemuda dari potensi lokal.
Tidak semua pemuda harus menjadi pegawai negeri, karyawan perusahaan besar, atau pengusaha teknologi. Setiap daerah memiliki peluang berbeda: pertanian, perikanan, perdagangan, industri kreatif, jasa, pariwisata, pengolahan hasil bumi, hingga ekonomi digital.
Pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, koperasi, dan pelaku usaha perlu membangun pendampingan bersama. Mulai dari pelatihan pembukuan, pengelolaan modal, pemasaran digital, standar produk, hingga akses pasar.
Bantuan modal pun harus disertai penilaian kelayakan, pendampingan, dan transparansi. Tujuannya bukan menciptakan ketergantungan terhadap bantuan, melainkan membangun usaha yang semakin mandiri.
Ketiga, jadikan organisasi pemuda sebagai pusat karya.
Setiap organisasi kepemudaan sebaiknya memiliki program yang dapat dirasakan masyarakat. Misalnya, membantu UMKM masuk ke pemasaran digital, mengadakan bimbingan keterampilan, membangun bank sampah, mendampingi anak putus sekolah, atau menciptakan kegiatan produktif bagi pemuda yang belum bekerja.
Program tidak harus besar. Mulailah dari satu desa, satu kelurahan, atau satu kelompok kecil. Tetapkan target, bagi tanggung jawab, laporkan hasil, dan evaluasi secara terbuka.
Lebih baik satu program kecil yang benar-benar berhasil daripada sepuluh kegiatan besar yang tidak meninggalkan dampak.
Keempat, buka ruang partisipasi pemuda dalam pembangunan.
Pemerintah dan lembaga terkait perlu melibatkan pemuda dalam perencanaan program, forum konsultasi publik, pengembangan ekonomi lokal, serta evaluasi kebijakan yang menyentuh kehidupan mereka.
Keterlibatan itu jangan berhenti pada undangan seremonial. Berikan akses terhadap informasi, ruang menyampaikan usulan, mekanisme tindak lanjut, dan penjelasan ketika sebuah usulan tidak dapat dilaksanakan.
Pemuda pun harus belajar menyampaikan kritik berdasarkan data, menghormati perbedaan, dan menawarkan solusi yang realistis.
Kelima, bangun budaya meritokrasi dan transparansi.
Kesempatan belajar, pelatihan, bantuan usaha, magang, dan rekrutmen harus dibuka dengan kriteria yang jelas. Hindari praktik pilih kasih dan perlakuan istimewa yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Pemuda perlu dinilai berdasarkan kemampuan, integritas, usaha, dan hasil kerja, bukan semata-mata kedekatan atau popularitas.
Keenam, ukur pembangunan pemuda dengan hasil, bukan kemeriahan.
Setiap program perlu memiliki indikator yang masuk akal: peningkatan keterampilan, jumlah peserta yang terserap kerja, usaha yang bertahan, kenaikan pendapatan, perluasan akses pasar, serta kontribusi terhadap lingkungan dan masyarakat.
Hasilnya perlu diumumkan secara transparan, termasuk kekurangannya. Dengan begitu, anggaran dan tenaga tidak habis untuk mengejar kesan sukses, melainkan digunakan untuk menghasilkan perubahan.
6. Sumpah Pemuda Harus Mengganggu Kenyamanan Kita
Sumpah Pemuda seharusnya tidak hanya membuat kita bangga terhadap masa lalu. Ia juga harus membuat kita gelisah ketika melihat ketidakadilan, kesenjangan kesempatan, penyalahgunaan kekuasaan, rendahnya kepedulian, dan potensi generasi yang terabaikan.
Kegelisahan itu harus menghasilkan tindakan.
Jika melihat pengangguran, jangan hanya mencela; bantu membuka akses informasi kerja dan keterampilan. Jika melihat UMKM kesulitan memasarkan produk, bantu memperluas pasarnya. Jika melihat lingkungan rusak, mulai bergerak bersama masyarakat. Jika melihat kebijakan yang tidak tepat, sampaikan kritik dengan bukti dan dorong perbaikan melalui jalur yang bertanggung jawab.
Dan kepada para pemimpin, jangan hanya mengajak pemuda menjadi masa depan bangsa. Berikan mereka kesempatan, kepercayaan, dan ruang untuk berkontribusi hari ini.
Sebab, pemuda bukan sekadar pewaris masa depan. Mereka adalah bagian dari kekuatan pembangunan saat ini.
Jangan Biarkan Sumpah Pemuda Berubah Menjadi Sumpah Seremonial
Pertanyaan “Sumpah Pemuda atau Sampah Pemuda?” seharusnya menjadi cermin bagi kita semua.
Bagi pemuda, ini adalah tantangan untuk berhenti menyia-nyiakan potensi dan mulai membangun kemampuan.
Bagi organisasi, ini adalah panggilan untuk membuktikan bahwa kegiatan mereka menghasilkan manfaat.
Bagi dunia pendidikan dan usaha, ini adalah dorongan untuk mempersempit jarak antara keterampilan dan kebutuhan nyata.
Bagi pemerintah, ini adalah tuntutan agar kebijakan kepemudaan memiliki sasaran yang jelas, anggaran yang bertanggung jawab, kesempatan yang adil, dan hasil yang dapat diukur.
Kita tidak boleh menyalahkan pemuda atas seluruh kegagalan pembangunan. Namun, kita juga tidak boleh membiarkan generasi muda kehilangan arah tanpa upaya bersama untuk memperbaikinya.
Jangan hanya mencetak spanduk bertuliskan “Pemuda Harapan Bangsa”. Cetaklah kesempatan. Jangan hanya membagikan sertifikat pelatihan. Bangunlah kompetensi. Jangan hanya mengumpulkan pemuda di sebuah ruangan. Bukalah jalan agar mereka dapat bekerja, berusaha, dan menciptakan perubahan.
Sebab, ukuran keberhasilan Sumpah Pemuda bukan seberapa meriah peringatannya, melainkan seberapa nyata kehidupan masyarakat menjadi lebih baik setelah semangatnya dijalankan.
Bangsa ini tidak kekurangan slogan. Yang kita butuhkan adalah keberanian mengevaluasi, keseriusan membenahi sistem, dan kemauan bekerja bersama.
Mari berhenti menjadikan pemuda sekadar bahan pidato. Mari berhenti menjadikan pembangunan kepemudaan sekadar agenda tahunan. Mari mulai membangun generasi yang berdaya, mandiri, kritis, berintegritas, dan produktif.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan menilai kita dari seberapa keras kita berteriak tentang Sumpah Pemuda, tetapi dari apa yang benar-benar kita kerjakan untuk masa depan bangsa.
Celoteh Sandi FW
“Jangan biarkan Sumpah Pemuda hanya hidup dalam upacara, sementara masa depan pemuda berjalan tanpa arah. Kritiklah yang salah, benahi yang kurang, beri kesempatan yang adil, dan buktikan perubahan melalui kerja nyata

